Sabtu, 12 Juli 2014

                                                 NAMA KU
                                      Untuk syuhada palestina

Namaku Zionis
Ku injak Palestina dengan mabuk dan dansa
Sebab aku tak punya negeri
Orang bilang aku laknatullah
Biarkan saja!
Kalau kamu menangis, menangislah
Muslim dunia, anak-anak Palestina
Biarkan saja!
Namaku memang zionis
Jelas, aku berdarah Yahudi
Ku ratakan tanah rumahmu menjadi rumahku
Tanganku bengis, kakiku kejam, mataku penuh
darah
Sebab aku tak punya negeri
Maka ku ambil Palestina jadi negeriku
Siapa peduli?


Namaku Mujahid
Pemilik sah tanah Palestina
Kau lecehkan Al Qur’an kiblatku dengan kekejian
Kau hinakan hak-hak milikku atas tanah
moyangku
Tanah air yang akan ku bela hingga ribuan
generasi lahir
Maka ku kirim kembali petaka yang kau kirim
Gelombang mujahid yang tak bakal surut
Meski dengan batu dan panah
Meski dengan lemparan api dan bom syahid
Biar generasiku syahid
Tapi generasi setelahku akan bangkit
Tak akan padam gelombang api yang kau sulut
Tak akan redam genderang perang yang kau
tabur
Meski kesuburan perempuanku sengaja kau libas
Lelaki dan pemuda negeriku kau tumpas
Tapi sumpahku tak akan tuntas
Ku kirim anak-anak lelakiku dan bayi-bayi
perempuanku
Ke medan perang kelak
Yang akan menuntut hak yang sama atas tanah
kelahiranku
Tanah Palestina
Tanah para syuhada
Tanah tempat wangi penghuni syurga


Namaku bukan siapa-siapa
Aku bicara HAM, demokrasi, hukum dan keadilan
Ketika seorang ibu anaknya tewas tertembak
aparat
Maka saat itu ku bilang : itu melanggar HAM
Aparat pelanggar HAM harus di hukum berat
Bagi sang ibu : Anugerahilah penghargaan
Atas penderitaan yang berat dari akibat
pelanggaran berat
“Yap Thiem Hien! Itulah penghargaan tertinggi
HAM yang akan ibu dapat”
Tapi bagaimana penghargaan paling pantas bagi
jutaan ibu Palestina
Yang melepaskan semua anaknya untuk menjadi
syuhada
Ah, namaku toh bukan siapa-siapa
Aku hanya bicara HAM, bukan bicara Palestina
Soal Palestina, bukankah itu terserah Anda?
Tentang nasib istri-istri pejuang Palestina
Yang menyaksikan suaminya tewas dibunuh
senjata
Bukankah itu sepenuhnya salah mereka?
Kami, ummat Islam disini
Seharusnya tidak buta dan tuli
Kami, ummat Islam disini
Seharusnya peduli padamu
Disini, kami wajib menangis
Ibadah kami
Shalat kami
Puasa kami
Lalu sepenuhnya untuk siapa?
Jika tak peduli pada sesama saudara seiman
Maka untuk apa shalat kami?
Ya Allah, ampunilah kami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar